Aku Dan Selembar Surat Cinta..

6 Pendapat Sunday, September 6, 2009
Hmm.. Surat cinta.. Aku tidak bisa menulis surat cinta.. Aku mendadak bodoh ketika aku ingin menuliskan sesuatu yang bertemakan cinta.. baik itu atas keinginanku sendiri, atau itu diminta oleh orang lain untuk kutuliskan.

Tidak, aku tidak akan menulis surat cinta menye-menye seperti pembantu rumah yang isinya “Kalau kamu jadi bunga, aku jadi lebahnya..” hoek.. amit2.. atau seperti ini, “kalau kamu jadi kumbangnya, aku jadi sepeda..” emangnya sepeda kumbang?? Dobel hoek dan dobel amit-amit. Aku juga yakin kalau Mbah Surip yang terkenal akan slogannya ‘I lop you full” pun bakalan tertawa dari kuburnya.

Aku juga tidak akan menulis ‘Aku cinta padamu’ Ayolah, yang benar saja?? Baru berapa minggu kita bertemu muka?? Mungkin.. untuk pertama kali.. aku hanya akan menulis, kalau aku nyaman.. Ya, nyaman.. aku nyaman ketika bertatap muka denganmu.. aku nyaman ketika menghadapi saat-saat bersamamu.. aku nyaman ketika melihat engkau tersenyum dan tertawa lepas bersamaku.. nyaman akan citra keibuanmu.. Kupikir, rasa nyaman lebih tepat kutulis daripada rasa cinta.. rasa ini lebih universal.. tidak akan menyakiti banyak pihak.. tidak akan menyaingi banyak pihak..

Entahlah.. aku tidak bisa menuliskan kata-kata indah sekelas pujangga dan sastrawan dunia.. aku tidak bisa meneriakkan ekspresiku sekeras dan selantang para demonstran.. Tapi, ada satu hal yang bisa kulakukan.. yaitu memberitahu satu rahasiaku.. rahasia kalau aku merasa nyaman atas kehadiranmu di sisiku.. seperti yang sudah kuungkap di atas..

Akan tetapi, ada satu ketakutan ketika rasa nyaman bersamamu itu muncul.. aku takut, kalau rasa nyaman itu terpupuk dengan baik, menjadi rasa sayang.. dan kemudian, rasa sayang itu menjadi rasa cinta.. Aku tahu, apabila aku sudah mencapai tahap itu.. aku akan bingung.. bingung karena engkau memiliki sejuta sayang, tapi hanya satu cinta.. dan aku tidak tahu, kalau satu cinta itu entah akan kau berikan kepada siapa.. Tapi.. sekarang kurasakan kalau aku sudah mencapai tahap sayang padamu.. Ya.. tampaknya cupid sudah membuatku terjebak kembali di dalam permainannya..

Menyebalkan ya? Apakah aku sudah gelap mata? Sehingga dengan bodohnya aku menempatkan diriku sendiri di dalam posisi yang sulit seperti ini? sehingga dengan bodohnya aku membawamu juga ke dalam posisi yang lebih sulit dariku..

Beberapa waktu lalu, atas dorongan sahabat baikku.. aku pernah mencoba menekan rasa ini dengan berpikir bahwa.. baiklah.. aku harus melepasmu.. aku akan menyambutmu sebagai sahabat baruku.. begitulah ku berkata pada diri sendiri. Namun nampaknya yang namanya hati memang tak bisa bohong.. pikiranku bersikeras kalau aku dan kamu sekarang hanyalah sepasang sahabat.. tapi hatiku masih menyimpan rasa nyaman itu.. rasa nyaman yang sudah ku pupuk dari minggu ke tiga bulan Juli yang lalu dan sekarang telah berkembang menjadi rasa sayang..

Salahkah aku jika aku masih menyimpan rasa itu? Salahkahku ketika mendengarmu berkata kalau kau memang merasa lebih nyaman denganku? Salahkah aku jika aku bisa membuatmu bercerita dengan leluasa mengenai segala hal yang ada di pikiranmu?? Salahkah aku jika aku melihatmu bisa menjadi dirimu sendiri ketika bersamaku? Salahkah aku jika aku menarikmu sebentar, dan memberikan perhatian sederhana untukmu? Salahkah aku jika aku bisa membuatmu tertawa sangat lepas di hadapanku? Salahkah aku jika aku berusaha untuk mencoba mengisi ruang hatimu?

Entahlah.. kupikir aku tidak mempunyai kuasa untuk menjawab semua pertanyaan itu.. biarkan saja orang bilang macam-macam.. Mohon maafkan aku jika aku memang bersalah kepadamu.. tapi semua yang kulakukan ini hanyalah sekedar mengikuti jeritan hati.. hati yang tidak pernah berbohong.. kalau aku memang sayang kamu..
Read On

Transformers Ooooh Transformers..

3 Pendapat Monday, July 6, 2009
Oke, dari semenjak gue nonton film Transformers 1, gue udah gak sabar banget nungguin buat nonton film ke dua nya, dan akhirnya, setelah nunggu selama 2 tahun, gue bisa nonton Transformers 2 - Revenge of The Fallen.

Damn! ketika itu film dirilis tanggal 24 juni kemaren, gue pas banget lagi gak ada duit, so, gue menahan diri buat gak ke bioskop. Oh, dan satu lagi, gue udah tau kalau minggu-minggu awal film ini direlease, pasti bakalan banyak anak-anak kecil yang merengek-rengek kepada orang tuanya untuk mengajak mereka lagi-dan-lagi dateng ke gedung bioskop, dan menonton film ini lagi, walaupun mereka sebenernya udah nonton berkali-kali.


Jadi, gue baru nonton film ini siang tadi. *tampang lugu mode on*



Oke, gue tau, siapa yang mau lempar tomat ke muka gue karena gue pasti ketinggalan jaman banget kalo baru nonton Transformers sekarang?? Haahahahaha. Tapi, anyway, gue gak menyesal walaupun nontonnya telat. (yeaa, telat hampir lebih dari 2 minggu dari tayang perdana)

Tapi, ada kisah seru yang gue alamin hari ini. Sumpah, baru kali ini gue berpetualang dan menggila bersama temen kosan gue buat nonton ke bioskop doang.

Jadi gini, gue sama temen gue lagi sama-sama gak punya duit. Duit gue cuman ada 8000 (delapan ribu) perak, sementara harga tiket masuk XXI itu 15.000 (lima belas ribu). Sebagai hasilnya, gue ngubek-ngubek tempat uang receh gue buat nyari tambahan dana. Dan akhirnya, gue dapet juga itu kekurangan 8.000,- dalam bentuk uang koin 100 dan 500 perak. Tapi tentu saja, semua receh itu gue tuker menjadi selembar uang 10 ribuan dan 1 lembar 5 ribuan. Yaah, biar gak keciri banget kalo gue ini anak kosan.

Oke, duit tiket udah di tangan. Sekarang, masalah transport. Buat sekedar informasi, motor yang dipake buat ke Ciwalk itu adalah Honda GL -entah-keluaran-taun-berapa-yang pasti-udah-sepuh.

Berikut ini adalah gambar motornya, *bukan gambar yang sebenernya, tapi sama model dan mesinnya*



Tua-tua keladi choy!!


Oke? bermodalkan duit bensin pas-pasan, duit buat tiket bioskop pas-pasan, sama motor sepuh dengan mesin 100 cc, gue nekat pergi sama temen kos gue ke Ciwalk.

Singkat kata, gue nonton film nya dengan rasa bahagia aman sejahtera dan sentosa *loh, apa-apaan toh ini?* Yah, tapi sempet terganggu dengan adanya dua anak (tuyul) yang kekurangan obat dan mengira teater bioskop adalah padang rumput sehingga mereka lari kejar-kejaran kaya di film India.

Buat filmnya, sumpah keren abis!!! Mata gue dimanjakan oleh efek-efek spesial yang keren mampus!! Ya pas adegan perangnya lah, tembak-tembakannya lah, *apa bedanya coba?* Pokoke keren banget! Oiya, ada satu lagi yang bikin gue semangat nonton sekuel Transformers ini:






Yeeaa.. Megan Fox choy!!!


Nah, sehabis nonton, barulah kegilaan hari gue dimulai.

Gue itu ngekos di dago, yang berarti, di atas bukit. Yah, kalo disangkut paut sama motor yang gue pake tadi, adalah seperti ini:

Dago + jalan nanjak + motor sepuh berukuran 100 cc + badan gue yang 'kecil' = Mampus

Dan itu terbukti, ketika gue berada di tanjakan, ada kejadian yang bikin gue ngakak gak berenti-berenti sepanjang jalan: motor gue disalip sama honda bebek 70.



motor sakti yang bikin gue makan asep


Ketika gue nengok ke kanan, gue liat itu pengendara motornya nyengir-nyengir ngeliat perjuangan gue dan temen gue (beserta motor aki-aki itu) buat ngelibas tanjakan, dan yang bikin gue tambah ngakak adalah, BARU KALI INI GUE DISALIP SAMA HONDA C 70!!

Bwahahahhah!! gue mamam dah tu asep. Kampret!

Oke, temen gue mencoba untuk mengejar itu bebek 70, tapi yang ada malah motor yang gue naikin MATI DI TENGAH JALAN. Dengan diiringi bau sangit mesin. Bwahahahahahah!!! itu gue bukannya malah panik, malah ketawa sekenceng-kencengnya!! Dan temen gue juga malah ikutan ketawa!!

Huah, hari ini bener-bener hari yang seru.



P.S: Oh noo!! Gue gak percaya berita ini: Megan Fox ternyata transgender. Oh My.. Tidaaaak!!
Read On

Mati Untuk Kembali Tenar

2 Pendapat Tuesday, June 30, 2009
Saya memang telah membunuh John Lennon, tetapi saya juga telah membuatnya tenar kembali. Lebih tenar daripada sebelumnya. - Mark Chapman

Belakangan ini dunia heboh dengan berita kematian Michael Jackson yang begitu mendadak. Lagi siap-siap mau konser, tau-tau masuk rumah sakit, kemudian mati. Semua fans nya kaget, menangis, ada yang histeris. Dunia kehilangan ikon musik pop nya. Seorang bintang pada masanya, yang sekarang mulai pudar popularitasnya.





Tapi, ada hal yang menarik yang bisa gue liat dari berita kematian MJ yang begitu fenomenal.

DIA MENJADI TENAR KEMBALI.

Yep, begitu berita kematiannya tersebar, sebagian besar masyarakat dunia segera men-googling berita tentang Michael Jackson. situs Google dan Twitter sempet berhenti beroperasi selama lebih dari setengah jam karena saking banyaknya manusia-manusia yang mencari beritanya MJ.

Seorang Michael Jackson mati, Google sampe berenti beroperasi. Bisa terbayang? gue aja gak pernah ngebayangin. Gue jamin, gak beberapa lama setelah kematiannya, bakalan ada banyak orang yang mengakses You Tube buat ngeliat video klipnya. Semua barang yang berhubungan dengan MJ pasti langsung dicari-cari, kalau yang udah punya, pasti di simpen dan diawet-awet buat dijual lagi suatu hari nanti.

Mati untuk tenar kembali. Kira-kira kata-kata itulah yang pantas untuk menggambarkan keadaan MJ sekarang. Dia kembali mencapai ketenarannya di masa jaya dulu hanya karena satu hal yang alamiah: mati. Uang royalti dari album-album lagunya kembali mengalir. Yah, walaupun tidak dinikmati oleh si MJ sendiri, paling enggak anak-anaknya bisa menikmati.

Tadi MJ sudah, sekarang bagaimana dengan John Lennon?



Keadaanya sama, dia juga tenar (lebih jauh dari sebelumnya) hanya karena dia mati dibunuh. Ternyata, sesuatu hal yang alamiah juga bisa membuat orang tenar ya?


Read On

Permintaan Orang Tua Kepada Anaknya Kelak

1 Pendapat
Gue hampir nangis ketika suatu hari temen gue mengirim email dengan judul yang sama dengan postingan gue kali ini. Ketika membaca email tersebut, gue menyadari kalau gue masih banyak berdosa sama kedua orang tua gue.

Bulu kuduk gue merinding. Ya, merinding. Sumpah gue ngerasa banyak dosa banget ketika gue baca email kiriman temen gue itu. Gue ngerasa gak layak. Gue merasa menyesal kenapa kedua orang tua gue mesti dipanggil sebelum gue bisa, yah setidaknya, membalas sedikit kebaikan dan jasa mereka. Isi email tersebut adalah ini:


Anakku yang kusayangi..

pada suatu saat dikala kamu menyadari
bahwa aku telah menjadi sangat tua, cobalah berlaku sabar
dan cobalah mengerti aku..

Jika banyak makanan yang tercecer dikala aku makan..
Jika aku mendapat kesulitan dalam mengenakan pakaianku sendiri..
bersabarlah..

Kenanglah saat-saat dimana aku meluangkan waktuku
untuk mengajarimu tentang segala hal yang kau perlu tahu..
ketika kau masih kecil.

Jika aku mengulang mengatakan hal yang sama berpuluh kali..
janganlah menghentikanku.. Dengarlah aku!
Ketika kau kecil, kau selalu meminta membacakanmu cerita yang sama berulang-ulang..dari malam yang satu ke malam yang lain hingga kau tertidur..
dan aku lakukan itu untukmu!

Jika aku enggan mandi, jangan memarahiku dan jangan katakan padaku bahwa itu memalukan. Ingatlah berapa banyak pengertian yang kuberikan padamu untuk menyuruhmu mandi dikala kecilmu.

Jika engkau melihat sikap lambatku terhadap teknologi, jangan tertawakan aku.
tapi berikan aku waktu untuk mengerti hal tersebut.. aku mengajarimu banyak hal.. cara makan yang baik.. cara berpakaian yang baik.. maberperilaku yang baik.. cara bagaimana menghadapi masalah dalam kehidupan..

Jika aku terkadang menjadi pelupa dan tidak dapat mengerti pembicaraan,
beri aku waktu untuk mengingat dan jika aku gagal melakukannya,
jangan sombong dan memarahiku.. karena yang penting bagiku adalah..
aku dapat bersamamu dan dapat berbicara padamu..

Jika aku tak mau makan, jangan paksa aku!
Aku tahu bilamana aku lapar dan kapan aku tidak lapar.

Ketika kakiku tak lagi mampu menyangga tubuhku untuk bergerak seperti sebelumnya..
Bantulah kau dengan cara yang sama ketika aku merengkuhmu dalam tanganku,
mengajarimu melakukan langkah-langkah pertamamu..

Dan kala suatu saat nanti, ketika aku katakan padamu bahwa aku tak lagi ingin hidup..
ketika aku ingin mati.. jangan marah..
karena pada saatnya nanti kau juga akan mengerti!

Cobalah untuk mengerti bahwa pada usia tertentu, kita tidak benar-benar ‘hidup lagi’,
kita hanya ‘tidak mati’

Suatu hari kelak kau akan mengerti bahwa di samping semua kesalahan yang aku buat,
aku selalu ingin apa yang terbaik bagimu dan bahwa aku siapkan dasar bagi perkembangan
dan kehidupanmu kelak.

Kau tidak usah merasa sedih, tidak beruntung atau gagal di hadapanku melihat kondisiku
dan usiaku yang sudah bertambah tua. Kau harus di dekatku, mencoba untuk mengerti bahwa
hidupku adalah bagimu, bagi kesuksesanmu, seperti apa yang ku lakukan pada saat kau lahir.

Bantulah aku untuk berjalan, bantulah aku pada akhir hidupku dengan cinta dan kesabaran.
Satu hal yang membuatku harus berterimakasih padamu adalah senyum dan kecintaanmu padaku.

Aku mencintaimu anakku..

Ayahmu, ibumu..


Ketika gue membaca postingan gue kali ini pun gue masih merinding dan kembali merasa sedih. Ingiin rasanya gue membalas kebaikan dan jasa-jasa kedua orang tua gue. Yah, tapi gue gak bakalan berkecil hati. Mungkin gue digariskan untuk membalas kebaikan dan jasa kedua orang tua gue dengan cara lain. Gue yakin semua ada hikmahnya.

Sebagai penutup, gue inget ada seorang paman yang bilang seperti ini sama gue:

Beruntunglah mereka yang masih memiliki kedua orang tuanya. Beruntunglah mereka yang disayangi oleh kedua orang tuanya. Akan tetapi, akan sangat beruntunglah mereka yang bisa membuat senang kedua orang tuanya, walaupun hanya sekedar ucapan terimakasih.

Ah, well.. cukup sekian buat postingan kali ini. Nanti pasti di update lagi. Ada banyak pengalaman yang pengen gue tulis di blog ini. Oiya, sudahkah anda mengucapkan terimakasih kepada kedua orang tua anda hari ini?

Read On

Ketinggalan Helm

4 Pendapat Friday, June 12, 2009
Beberapa waktu lalu, gue ikut seminarnya si Kambing dablek yang bernama Raditya Dika. Eh, seminar ato talkshow ya?? Ah.. entahlah.. yang pasti intinya adalah tentang menulis. Tapi.. errr.. beneran nih.. seminar ato talkshow ya?? Ah,, pake seminar aja lah.. biar kerenan dikit gituu.. hehe.. lagipula, yang ditulis di sertifikat gue adalah “Seminar Tentang Menulis” jadi, sepakatlah kita pake kata seminar.

Oke, balik lagi ke topik. Jadi, tema seminar pada waktu itu adalah “Write Your Life” atau bisa di terjemahkan “Tuliskan kehidupanmu”. Pas seminar, sembari mendengarkan si kambing mangap-mangap di depan peserta, ada cuapan si kambing yang menarik perhatian gue:

Banyak hal-hal sederhana yang berada di sekeliling kita, yang kalo kita pikir-pikir lagi, ternyata hal sederhana itu bisa bikin kita ketawa sendiri.. Yah.. minimal senyum lah..


Ya, hal-hal sederhana, hal yang trivial, ternyata memang bisa membuat kita tertawa sendiri kalau-kita mengingatnya lagi. Percaya atau tidak, ketika saya keluar dari ruangan seminar, gue mulai mencoba memperhatikan keadaan di sekeliling. Dan saudara-saudara, sekali lagi, hal-hal sederhana itu, memang bisa membuat gue ketawa sendiri kalau mengingatnya.

Seperti yang beberapa hari lalu terjadi di kampus. Beberapa hari lalu, gue sudah dengan suksesnya melewati sebuah ujian akhir, yang dimana ujian itu saya kerjakan dari jam 10 pagi, dan baru bisa saya selesaikan pada jam setengah 5 sore, dan parahnya, ujian itu juga open book alias buka buku. Yah, sudah bisa dipastikan bagaimana soal ujian yang gue hadapi kan? Untungnya dosen gue lagi ada di luar negeri.

Entah mungkin karena udah butek banget sama soal ujian sejarah Sastra Inggris, otak gue dan temen-temen gue jadi pada ngebul semua. Ada yang mukanya cengo, ada yang mangap, ada yang langsung jadi kereta api (abis rokok sebatang langsung sundut lagi), dan segala macemnya.
Yang paling lucu adalah (menurut gue) ketika ada temen gue yang pengen langsung pulang. Anggep aja namanya Kris. Pas itu, dia bilang:

Oi, gue pulang ya.. okeh? Sampai ketemu besok.


Dan dia segera memacu motornya keluar dari kampus. Sekitar sepuluh menit kemudian, dia tau-tau balik lagi dan bilang:

Goblok. Udah mau sampe pasar simpang gue baru sadar kalo helm gue ketinggalan. Pantesan kepala gue rasanya kok ringan ya??


Ya, dia ternyata ketinggalan helm, hal yang simpel kan? Tapi kalau diliat-liat lagi, kejadian itu cukup bisa bikin gue ketawa. Kenapa? Karena pada saat itu, dimana muka temen-temen gue yang lain pada letih-lesu-tapi tidak lemah syahwat, gak ada yang sadar kalau si Kris pergi dari kampus tanpa helm. Dan ketika dia pamit sama yang lain, semuanya bilang:

okee,, ati-ati ya.. *sambil dadah-dadah*


Dan gak ada yang sadar kalo dia ngengkol motor tanpa pake helm.

Pas dia balik lagi ke kampus, baru semua temen-temen pada ketawa dan bilang
Kenape lu?? Otak lu mau mletus?? Gara-gara soal ujian tadi??


Ketinggalan helm, pas abis ujian dari jam 10 pagi. Hal yang amat sangat simpel kan? Tapi itu bisa ngebuat gue ketawa. Sama ketika gue membaca lagi tulisan gue ini.

Read On

Limitasi

2 Pendapat Wednesday, May 27, 2009
Hello blog.. saya mengucapkan salam kepada blog, kalo salam ke pembaca, itu lain urusan. Halo para pembaca sekalian, apa kabar anda hari ini? Baik-baik saja saya harap. Nah, itu baru saya menyapa para pembaca, urusan menyapa blog tak lagi jadi soal (karena sudah saya sapa lebih dulu.)

Ah, apa lagi yang akan saya tulis kali ini? ah, terserah saya saja lah mau menulis apa. Wong ini blog punya saya kok. Tapi, masalahnya, saya mau nulis apa? dan tetap saja masalah itu menjadi masalah saya, bukan masalah para pembaca. Lah wong anda tinggal baca saja.


Baiklah, mulai serius ah sekarang. Masih mengenai seni tulis menulis. Beberapa waktu lalu, saya sempat bertanya kepada dosen saya tentang bagaimana cara menulis yang baik. Terus terang terang terus, saya juga agak sedikit bingung dengan standar penulisan.. yang sering membuat saya bingung adalah tulisan seperti apakah yang dikategorikan sebagai tulisan yang bagus?

Paling tidak, setelah saya bertanya kepada sang dosen, saya menemukan hal menarik yaitu, limitasi.

Ternyata, limitasi dalam tulisan itu sangat penting. Dengan adanya limitasi, diharapkan bahwa tulisan tersebut menjadi tersegmentasi dan memiliki pangsa pasar nya sendiri. Bukan, yang saya maksud bukan tulisan yang komersial dan dijual di toko buku. Tetapi yang saya maksud dengan 'pangsa pasar' adalah bahwa tulisan tersebut memiliki para pembacanya sendiri. Seperti para remaja dan serial teenlit nya, para komikers dengan komiknya, para penggila bokep dengan hasil karya stensilannya, dan segala macamnya lagi.

Limitasi juga memudahkan penulis untuk menentukan akan dibawa ke genre apakah tulisannya itu. Penulis jadi lebih bisa berkonsentrasi akan tulisannya. Apakah ia ingin menulis karya yang berhubungan dengan politik? Apakah ia ingin menulis karya yang berhubungan dengan ekonomi? Apakah ia ingin menulis karya yang berhubungan dengan fiksi, non fiksi dan segala macam lainnya. Setelah penulis mensegmentasikan tulisannya, sekarang tinggal para pembaca yang memutuskan apakah ia ingin membaca karya tersebut atau tidak.

Yah, kira-kira cukup segini dulu artikel saya mengenai seni tulis menulis dan cukup segini dulu penjelasan saya mengenai limitasi. Memang, terkesan menggantung, tapi saya hanya membatasi panjang tulisan saya agar orang yang membacanya tidak bosan dan malah ngantuk duluan ketika baca tulisan saya kali ini.

Oh, apabila ada yang bertanya apakah saya melimitasi blog saya ini? saya rasa tidak. Saya belum se-idealis itu untuk mensegmentasikan tulisan saya ke dalam suatu bidang yang spesifik. Oh, dan tentu saja, setelah saya pikir-pikir lagi, limitasi juga salah satu unsur yang membuat tulisan itu menjadi 'bagus'.

Tapi tentu saja, 'bagus' atau 'tidak bagusnya' suatu tulisan bergantung kepada penilaian pembaca.


Read On

Menulis Berotot Isi Angin, dan Padat Bal-balan..

3 Pendapat Sunday, May 24, 2009
Menulis memang hobi saya. Adalah sesuatu hal yang sangat menarik apabila saya bisa menuangkan setiap pikiran saya ke dalam bentuk tulisan, dengan bahasa yang sederhana. Dengan menulis saya bisa melakukan apa saja yang saya mau, seperti menemukan sebuah dunia yang bisa saya kendalikan semaunya.

Menulis adalah seni. Semua orang bisa menulis, tapi tidak semua orang bisa menjadikan tulisannya menjadi sebuah karya seni. Akan tetapi, beruntunglah para penulis amatir, seperti saya tentu saja, karena menurut dosen saya seni itu adalah abstrak. Sesuatu hal yang bisa ditafsirkan semaunya oleh si penyimak, pendengar, dan dalam hal ini, oleh pembaca.


Ya, tampaknya saya setuju dengan pernyataan dosen saya itu. Menulis adalah seni yang bebas untuk diapresiasikan, bebas dikaitkan atau direlasikan dengan hal lain. Sesuatu yang tidak mengenal batasan. Setiap orang boleh menuliskan sesuatu, mau itu tulisan angin-anginan, tulisan bal-balan, sampai tulisan berotot padat berisi sekalipun. Oleh karena itu, setiap orang pun boleh berkomentar, mau itu komentar angin-anginan, komentar bal-balan, sampai komentar padat berisi sekalipun.

Seni adalah hal yang abstrak. Ketika saya melihat lukisan yang mirip monyet, tapi menurut orang lain itu mirip dengan kucing tengkurap kena kurap, merupakan hal yang boleh-boleh dan sah-sah saja. Begitu juga dengan tulisan. Begitu saya membaca tulisan orang, kalo menurut saya tulisan itu angin-anginan, tapi kalau menurut orang lain pertama tulisan itu adalah tulisan bal-balan, dan menurut orang lain ke dua tulisan itu adalah tulisan nan berotot padat dan berisi, adalah hal yang boleh-boleh dan sah-sah saja untuk dilakukan.

Lantas, seberapa penting peran komentar orang mengenai tulisan orang yang lainnya? Mau tak mau harus mau, kalau menurut saya juga (terserah dong, ini kan tulisan, tulisan saya.), itu penting. Bukaan, bukan sebagai wahana cari perhatian atau minta diperhatikan, saya masih cukup mempunyai rasa diperhatikan orang kok. Komentar itu penting agar jari saya, (dan para penulis lainnya yang mungkin sepaham tidak paham dengan saya) bisa terus menari. Siapa tau, dari tulisan saya yang ingin-berotot-padat-berisi ini ada komentar bal-balan dan angin-anginan yang bisa menginspirasi saya untuk membuat tulisan baru. Yah, mungkin tulisan yang berotot isi angin, plus padat bal-balan.

Jadi, menurut anda para pembaca, apakah tulisan saya ini hanya sekedar tulisan angin-anginan, tulisan bal-balan, tulisan berotot padat berisi? Atau tulisan yang berotot isi angin dan padat bal-balan?


P.S:

saat saya menulis ini, saya lagi berada dalam keadaan yang sok tahu tahi ayam.. jadi terserah anda, mau ikut-ikut orang sok tahu tahi ayam, mau ikut orang tua, mau ikut pacar, mau ikut tukang sampah juga boleh,,

Read On

Sekilas Info di Aegea Raya

4 Pendapat Sunday, May 17, 2009
Hello blog.. how are you?? are you okeh-okeh saja? mohon maab saya baru bisa apdet lagi.. tumpukan tugas akhir yang dikasih dosen ternyata amat-sangat-menyika.. dan, oh.. seinget gue, masih ada 2 tugas akhir lagi yang mesti gue kerjain sebelum deadline di minggu pertama bulan Juni, dan oh yeah. bulan Juni itu, GUE UAS!!

Well, apa saja yang gue udah lewatin beberapa hari ini?? dunia semakin ramai saja sepertinya, sampe bingung mau nulis yang mana... ah, well.. tapi gue coba saja lah.. here we go!!


Baru-baru ini gue mudik ke Jakarta, yaah, ada sedikit urusan keluarga sih. Jadi gue balik ke Jakarta hari kamis subuh, menyelesaikan semua urusan, mencicipi kembali yang namanya masakan rumah *sumpah itu enak banget!!!* dan kembali pulang ke Bandung pas hari Jumat subuh. Tapiii, ketika di hari Jumat gue bersiap-siap untuk kuliah, dosen gue menelpon dan mengabari kalo hari itu semua kuliah dibatalkan karena SBY mau dateng ke Bandung buat mengabarkan siapa yang menjadi pendampingnya di Pilpres 2009, Boediono.




Hmmm.. hebat juga SBY. Bisa berpikir out of the box, dan membuat badai politik karena keputusannya untuk mengambil cawapres yang bukan berasal dari politisi. Ya, Pak Boediono adalah seorang ekonom, bukan seorang politisi. Dan berati itu BAGUS!!! Entah mengapa, gue udah jijay sama yang namanya politisi. Sori, bukan berati gue memukul rata semua politisi itu busuk semua, enggak, bukan begitu maksud saya. Tapi, pada kenyataannya, yang keliatan di mata publik adalah berita, fakta, dan bukti yang menunjukkan (dan membuat gue mau gak mau harus memukul rata) kalau yang namanya politisi itu busuk semua.

Yaaa sejauh ini, bereferensi dengan yang dikabarkan oleh media massa, sosok seorang Boediono adalah seorang yang cukup ideal untuk mendampingi SBY di ajang Pilpres nanti. Yang gue suka, dia itu adalah seseorang yang irit bicara, tapi banyak kerjanya. Berkebalikan dengan rata-rata politisi yang irit kerja, banyak bicaranya.

Yah, kita lihat saja bagaimana kiprah duet SBY Berbudi nanti ya.. mudah-mudahan kemenangan di atas kertas berubah menjadi kemenangan yang sebenernya.

Hmmm,, berita tentang Boediono, sudah. Sekarang apa lagi ya??

Oh, sekarang gue butuh banget yang namanya leptop. Gue sekarang lebih sering di kampus dari pada di kosan. Tugas menumpuk, lebih sering nebeng hotspotan di kampus pake laptop temen sambil diskusiin tugas. Haiiiaaaaaahh.... bagaimana iniiii?? Leppy oh leppy..


Acer 4736


atau Acer 4935

Berita tentang gue yang butuh laptop sudah, lanjut lagi dah.

Baru-baru ini, dan entah untuk yang keberapa kali, gue makan lagi di warung sate yang itu. Entah mengapa, setiap gue kesana, adaaa aja kejadian yang bikin gue ketawa, sebel, ato campur-campur kaya nano-nano.

Naaah,, kejadian yang kali ini gue alamin adalah: tukang sate nya minta transfer video bokep 3gp dari hape gue.

Yep, anda tidak salah membaca. VIDEO BOKEP!! *tuh, udah gue tulis pake hurup gede*

Kejadian itu bermula ketika gue lagi makan sate, dan tiba-tiba tukang satenya itu bilang:

"Cak, punya pilem gak?"

Gue yang lagi nyeruput kuah soto langsung ampir keselek, dan membalas:

"Filem gini??"


*tangan gue kepalkan, tapi dengan posisi jari jempol terjepit di antara jari tengah dan jari telunjuk, dan kuku jempol menyembul keluar. Ya ya ya. anda pasti mengerti maksud saya kan?? gerakan tangan yang menyimbolkan itu tuh.. ehem.. jadi gak enak.. ah, pasti anda mengerti lah..*

Dan si tukang sate itu mengangguk dengan semangatnya!!!! *LOL*

Okeee, kebetulan gue udah sebel sama itu tukang sate. Bayangin, gue lagi makan, dan tau-tau gue ditanyain apakah gue punya film bokep berformat 3gp di hape gue. Gue kasih lah tu film. Gue transfer pake blutooth. *gila, tukang sate aja hapenya bisa bluetooth*

Dan sodara-sodara, keputusan gue untuk ngasi film bokep ke tukang sate itu adalah keputusan yang amat sangat goblok. Kenapa?? karena semua "tukang" yang ada deket situ langsung nimbrung ke warung sate tempat gue makan.

Fak.

Ya tukang sate yang satunya lagi, ya tukang tambel ban, ya tukang angkot, ya tukang nasi goreng, gak lama kemudian langsung ngerubutin itu hape yang baru aja gue kirimin video bokep. Untungnya gue udah selese makan, dan langsung kabur dari warung jahanam itu.

Ah, well.. pelajaran moral yang bisa diambil dari postingan kali ini adalah: jangan pernah ngasi video bokep ke tukang sate, dan ternyata, tukang sate itu juga suka bokep ya?? huahahahahaha.. sumpah gue langsung ngakak sendiri pas inget-inget kejadian waktu itu.

Hmm.. tampaknya sudah cukup gue update blog gue kali ini, oh, dan maaf, postingan saya kali ini juga tidak ada maksud sama sekali untuk turut mengkampanyekan tokoh yang nanti akan saya pilih dalam pilpres mendatang. Ah, well. musim tugas akhir masih belum berakhir, jadi mohon maaf kalo gue jarang apdet lagi. Sampai jumpa di postingan berikutnya.


Read On

Hospitality in Building a Relationship

0 Pendapat Saturday, May 9, 2009

In daily relationship between individuals, we could feel the existence of friendly individuals and the unfriendly ones. We will have a better relation when we are facing friendly individuals rather than the unfriendly ones.

At a glance, hospitality is often regarded as an outer appearance, an effort for showing our politeness, or just a ritual in social interaction. However, true hospitality is come from the deep of an individual’s soul that comprehends with the basic needs of human psychology.

The true hospitality is not the same with the appearance that built with a lot of smiles and beautiful words. It can be said so, but a million of smiles and beautiful words will lose its meaning if they are not coming from the deep of our soul. That kind of hospitality will not last for long. It is only a form of a tiring psychic deficiency. Sooner or later it will be faded or maybe disappear.

True hospitality is rooted from a human’s soul that trying to fulfill their relative’s four basic psychological needs. The four kinds of needs are the need of acceptance, acknowledgement, respect, and comprehension. Those are often called as the basic psychological needs because every individual needs those elements to be fulfilled. Thus, the true hospitality is formed from every attitude or behavior that comes from humans who makes their relatives feels of being accepted, respected, acknowledged, and comprehended.

An individual who does not get those four basic needs fulfilled, especially if it happens at a chronic stage, will appear like a person whom suffers a mental illness. A person who suffers from a mental illness is like a person who has a toothache. They will appear as humans whom are having difficulties for making a good and proper relationship.

Thus, a sincere hospitality is a moral value which has a great role in decreasing the mental pain. It also will take part in growing a good and proper relationship between individuals. In the contrary, the lack of hospitality could threaten the relation’s quality. That will become one of many causing factors that increases the number of people who suffers from a mental illness.

Hospitality is one thing that worth to be struggled for its realization. The question is how could we struggle for it?

These are some suggestions that could be used for consideration:

1. Every individual is always trying to remember that every human whom he or she met is one of God’s creations that have the right for being accepted, acknowledged, respected, and comprehended. Maybe everyone knows that, but the important thing is not only just to know. The important thing is remember what is the thing that being known.

2. Every human is always trying to realize that every person whom he or she met in daily relationship is an individual who not only live with rational consciousness, but also with their sub-conscious affection. The awareness of the role from the sub-conscious affection is very important in order to grow a tolerance with the diversity of habits and behaviors from every individual we have met day by day. That awareness is also important for growing a tolerance with the attitude and behavior ‘oddity’ that may come from people who make relation with each other. The awareness about the role of sub-conscious affection enables us for not easily judged the people that hard to understood, for not easily astonished when we are having bad experience from other people, and it also enables us to understand other people sincerely.

3. Every person is trying to build a relation with other people, serving and working in the middle of their daily life with an optimum rational consciousness. In effort to grow such kind of consciousness, we could use some of these ways:

  • Focusing our attention into our life, events, jobs, and here-and-now activity. We may sometimes flews our mind to things in the past or future. But it does not means that we are stuck with the past and being late for predicting the future.
  • Avoid automatic (suddenly popped out from your mind), compulsive (naively believing), and habitual (based on habitual behavior) reactions. Try to make responses through the consideration of conscious ratio or clear reasoning for replacing reactions that suddenly comes out from beyond of such kind consideration.
  • Continuously expand our knowledge and perception by reading a lot of books, learning, and practicing.
  • Do not suddenly show our reaction although our emotion is skyrocketing.
  • Do not return any un-politeness with other un-politeness.
  • Put hospitality on a highly respected and important value in order to realize a good and proper relation between individuals.

Eventually, people who give their hospitality for their relatives, in fact, have nothing to lose. As the matter of fact, that is the initiate point from the process of receiving more kindness in the future. Humans will never lose anything by giving kindness and hospitality, because if they are giving their kindness and hospitality to each other, they will get more kindness and hospitality in return.



p.s:

1. Taken from Intisari magazine issued on March 2003, 'Keramahan Dalam Berelasi', translated with some adaptations *and mistakes, for sure.. hahaha..*

2. Ampun Pak Tom.. artikel segini aja saya jungkir balik nerjemahinnya.. huiks.. masih ada 3 artikel lagi yang belon diterjemahin.. huaah.. nasib jadi anak sastra.. x(

3. Oh my.. gue terpana dengan hasil terjemahan gue sendiri..



Read On

KKN, dan Papan Gilesan.. x(

7 Pendapat Friday, May 8, 2009

Hell yeah.. gak berasa udah mau musim ujian lagi. x( Tag board di tembok gue udah penuh dengan jadwal ujian dan daftar deadline tugas akhir semesteran yang mesti gue kerjain biar bisa ikutan UAS. Great. --"

Ujian makin mendekat, tugas makin banyak, dan itu juga berati hitungan mundur buat gue kkn di desa semakin pendek. KKN, kuliah kerja nyata. di desa. di kampung. in the middle of nowhere. di tempat yang sinyal hape pun males walaupun hanya sekedar mampir. bla bla bla.. yadda. yadda.

KKN, kuriling-kuriling nyatu kalo kata temen gue. Is it an important thing to do?? going to an area located far-far away from central of civilization?? *hyperbolic mode on* Ah, well.. sebenernya gue kurang setuju sama program ini. Kenapa? karena itu gak sesuai sama bidang yang gue pelajarin.

Helloo??? gue ini adalah mahasiswa sastra, gue butuh yang lebih dari ituu.. kirim gue ke kedutaan kek, kirim gue ke tempat yang bisa gue jadiin tempat belajar penerjemahan kek. Kirim gue jadi tenaga penerjemah kek, ato apalah-apalah, yang penting langsung bersentuhan dengan bidang gue. Sial.. ternyata mahasiswa jurusan D3 lebih beruntung karena bisa magang di tempat yang sesuai dengan bidang jurusan mereka masing-masing. *ngiri mode on* Sekarang gini deh.. kalo gue kkn, paling-paling gue ngajar di sekolah. Sori, bukan gue berlagak sombong gak mau ngajar, tapi gue ngerasa kalo GUE GAK PUNYA BAKAT NGAJAR SAMA SEKALI!!

Oke? gak kebayang kalo gue nanti bukannya ngajarin basic grammar ke anak-anak sekolah tapi gue malah ngajarin posisi Kamasutra dan menceritakan kalau Miyabi tidak tidak terkena aids dan kemudian mati, melainkan pindah rumah produksi (yang berakibat filmnya sekarang uncensored semua :p *dibunuh para guru*). See?? gue rasa tanggung jawab moral gue terlalu besar kalo gue jadi seorang pengajar di sekolahan.

Ah, kkn di desa. Aargh.. I'm gonna miss my computer badly. Bayangkan, tak ada akses internet, tak ada komputer (mudah2an ada yang bawa laptop, jadi paling enggak gue bisa maen zuma), tak ada Altec Lansing. Tidak tidak tidaaaak.. Ah, terkesan kalo gue manja sekali ya? termanjakan segala fasilitas berteknologi canggih yang ada di kamar gue. Hmmmm.. I hope I can get through this. ;)

Oh yaaa.. satu lagi.. masih juga imbas dari teknologi: GUE CUMAN BISA NYUCI PAKE MESIN CUCI.

Hebat? ato memalukan? ah, tapi gue rasa gak malu-maluin amat sih.. hari gini gitu?? sapa yang gak punya mesin cuci? Oh.. tunggu.. apakah nanti di tempat gue kkn ada mesin cuci?? ADA GAK YAA??

Mati gue kalo gak ada.. bayangkan.. dari ini:


hmmm.. tak ada nyeri pinggang



Tau-tau berubah jadi ini:

nyeri pinggang di depan mata x(

Yaiks.. it seems that i'm gonna miss my laundry man.. Somebody, please teach me how to use the 'papan gilesan' correctly.. *sobbing*


p.s: Bagus! udah hampir setengah empat pagi, gue malah ngeblog, bukannya bikin essay tentang pemilu... --"

Read On